Darimana aku harus mulai? Petualangan sebenarnya dimulai jauh sebelum aku bertemu dengan Marko, yang kelak mengadopsiku dari jalanan kumuh. Jauh sebelum dia mendaftarkanku di Akademi Plato dan resmi menjalani hari-hariku sebagai kucing rumahan bersamanya.
Pagi itu cukup cerah, dan sudah cukup lama aku diam disitu, di tempat itu. Saatnya bergerak mencari makanan sebelum semuanya
terlambat. Ya, aku punya sedikit gangguan lambung dan usus duabelas
jari. Setelah mendiagnosa sendiri, ku simpulkan aku menderita vertigo.
Bagaimanapun, aku harus menerima kenyataan, meskipun penyakit ini tidak se-elite
yang kupikirkan. Lagi pula siapa yang peduli nasib kucing jalanan liar
sepertiku? Aku peduli.
Belakangan ini instingku buruk. Penciumanku juga menumpul. Aku hanya
makan tiga kali seminggu. Itupun karena seseorang mengasihaniku dan
menyisihkan sebagian sisa makanannya untukku. Kurasa aku sudah tidak
bisa lagi berburu tikus. Para petani tidak mau lagi menggunakan jasaku,
mereka lebih puas dengan kinerja pestisida. Tapi sejujurnya, aku mencium
bau konspirasi terselubung antara para petani dan bangsa karnivora
khawarij; keluarga anjing. Sudah jelas para pengkhianat itu ingin
melenyapkan keberadaan keluarga kucing dari muka bumi. Mereka ingin kami
mati kelaparan.
Mendadak hari-hariku menjadi ladang ranjau. Tiap hari aku mengais sampah tanpa hasil. Kelaparan ganas mulai menggerogotiku. Aku sekarat tapi aku tidak mau mati lagi.
Terakhir kali aku mati terlindas roda gerobak, itu sangat menyakitkan.
Ketika terbangun hidup lagi, aku harus mencari lambung dan usus yang
sudah terpisah dari tubuhku. Sebelumnya, aku sempat mati keracunan sisa
daging kucing bakar yang aku sangka ikan tuna.
"Menjijikkan! Makhluk terkutuk mana
yang makan kucing bakar?"
Umpatku setelah mati.
Jadi, kau tau itu artinya aku masih punya sisa 7 nyawa. Aku bukan
tipe kucing yang suka menghamburkan nyawa. Tapi kalaupun mati, aku ingin
mati keren, dan harus hari Jum'at. Sekarang baru hari Rabu. Aku harus
bertahan hidup. Harus.
***
Wasn't it extraordinary to be in the world right now? Wandering around in a wonderful adventure...
Monday, October 28, 2013
Monday, October 21, 2013
Catventure: Akademi Internasional Plato
Perkenalkan lagi, namaku CatNyc. Aku berasal dari kerajaan Animalia. Aku sekolah di Akademi Internasional Plato, sekolah paling populer di kerajaan kami, dimana mereka menempatkanku di kelas Mamalia. Penting untuk diingat; aku hanya berteman dengan mereka yang sebangsaku. Entah bagaimana, ada semacam peraturan tak tertulis dalam bangsa kami, bahwa kami dilarang berteman dengan bangsa Rodentia, karena mereka bangsa yang lemah, penyakitan, borokan, dan hanya menjadi parasit bagi kehidupan manusia. Itu benar. Sayang sekali di sekolah kami memberlakukan persamaan hak. Ayah angkatku, seekor pemimpin hebat di keluarga kami yang juga menjabat di pemerintahan daerah, dia yang pertama kali menentang kebijakan sekolah. Menurutnya, bangsa Rodentia adalah bangsa yang licik, penuh taktik dan tipu muslihat. Tentu saja keberatannya ditolak mentah-mentah oleh pihak sekolah. Tapi aku percaya pada Ayahku, dia selalu mempunyai alasan yang bagus atas apa yang dia lakukan.
Ini adalah caturwulan ke-2 ku di akademi, setelah caturwulan pertama yang panjang dan membosankan. Yah, tidak ada yang lebih membosankan selain satu meja dengan seekor Artiodaktil, Wigsy si jorok. Dia pernah dua kali menyandang Juara Harapan I: Siswa Terdungu tingkat sekolah. Dia bahkan tidak bisa membedakan mana makanan, mana kotoran. Sungguh menyedihkan. Kenapa manusia sangat gemar mengkonsumsi dagingnya, itu masih menjadi misteri yang belum terungkap bagiku. Kakekku seekor panther, dan seumur hidupnya tidak pernah memakan babi.
Seperti yang ku harapkan, Leo menjadi teman sebangku ku kali ini. Leo adalah sepupu angkat dari ayah angkatku. Kami satu keluarga, hanya saja berbeda gen. Aku felis, dan dia panther. Diantara semua keluarga besar kami, gen panther yang paling populer di sekolah, dan mungkin di seluruh penjuru dunia hewan. Banyak yang iri pada rambut lebatnya. Tapi lebih dari itu, yang sebenarnya membuat iri hampir semua hewan di dunia ini adalah predikat Raja Hutan yang diberikan manusia pada mereka. Sejak itu dan seterusnya, semua keturunan panther secara resmi menjadi bangsawan mutlak.
***
Bersambung ah.
Males.
Ini adalah caturwulan ke-2 ku di akademi, setelah caturwulan pertama yang panjang dan membosankan. Yah, tidak ada yang lebih membosankan selain satu meja dengan seekor Artiodaktil, Wigsy si jorok. Dia pernah dua kali menyandang Juara Harapan I: Siswa Terdungu tingkat sekolah. Dia bahkan tidak bisa membedakan mana makanan, mana kotoran. Sungguh menyedihkan. Kenapa manusia sangat gemar mengkonsumsi dagingnya, itu masih menjadi misteri yang belum terungkap bagiku. Kakekku seekor panther, dan seumur hidupnya tidak pernah memakan babi.
Seperti yang ku harapkan, Leo menjadi teman sebangku ku kali ini. Leo adalah sepupu angkat dari ayah angkatku. Kami satu keluarga, hanya saja berbeda gen. Aku felis, dan dia panther. Diantara semua keluarga besar kami, gen panther yang paling populer di sekolah, dan mungkin di seluruh penjuru dunia hewan. Banyak yang iri pada rambut lebatnya. Tapi lebih dari itu, yang sebenarnya membuat iri hampir semua hewan di dunia ini adalah predikat Raja Hutan yang diberikan manusia pada mereka. Sejak itu dan seterusnya, semua keturunan panther secara resmi menjadi bangsawan mutlak.
***
Bersambung ah.
Males.
Friday, October 18, 2013
Kopi
Kopi itu pait. Sama kaya pare. Iya, jadi kopi itu pait ya, jangan lupa. Biasanya warnanya item, kenapa? Karena kopi ini mengabsorpsi semua cahaya dari matahari dan nggak ada yang dipantulin, akirnya otak nyimpulin sendiri kalo ini namanya warna item..
"Item nih, udah pasti." kata otak.
Masih nggak ngerti juga? Sama. Penjelasan itu tadi aku kopi paste dari buku kimia temen yang dipinjem dari perpus kampus dan sampe sekarang belum dibalikin. Udah duapertiga windu. Parah, kan? Itu aja belum termasuk denda pasca pengembalian buku. Belom lagi dimarahin admin perpus, tukang jaga perpus, tukang kebun kampus, tukang parkir, tukang palak...
Trus kalo white kopi berarti sebaliknya. Sebaliknya gimana? Singkatnya, pas cahaya datang dari matahari ke bumi berdifusi dalam bentuk partikel foton, fotonnya ini menyebar ke seluruh bumi dan bertubrukan dengan atom materi dan... DUARRR nabrak elektron.
"Udah bosen idup, lu?!!!" elektron mulai emosi.
"Wo wo wo santai men! Kagak ada tempat lagi ini!" jawab foton sok ghetto.
"Holy shit! Lo musti gue absorbsi sekarang atau kita bakal meledak," kata elektron sedikit ngancem.
"Ambil nih! Ambil!!!!!" teriak foton semi-nggak iklas.
Akirnya bener, abis ngambil energi dari foton tadi, elektron langsung lompat ke kulit atom lain yang punya tingkatan energi lebih tinggi. Kenapa? Karna takdirnya gitu, mau gimana lagi...? Tapi nggak lama kemudian dia balik lagi ke habitat asalnya. Mungkin karna emang udah waktunya mudik. Nah pas itu juga, dia pancarin lagi si foton. Dan... jadi deh.
Apanya yang jadi?
Hubungannya ama white kopi?
Nggak ada.
"Item nih, udah pasti." kata otak.
Masih nggak ngerti juga? Sama. Penjelasan itu tadi aku kopi paste dari buku kimia temen yang dipinjem dari perpus kampus dan sampe sekarang belum dibalikin. Udah duapertiga windu. Parah, kan? Itu aja belum termasuk denda pasca pengembalian buku. Belom lagi dimarahin admin perpus, tukang jaga perpus, tukang kebun kampus, tukang parkir, tukang palak...
Trus kalo white kopi berarti sebaliknya. Sebaliknya gimana? Singkatnya, pas cahaya datang dari matahari ke bumi berdifusi dalam bentuk partikel foton, fotonnya ini menyebar ke seluruh bumi dan bertubrukan dengan atom materi dan... DUARRR nabrak elektron.
"Udah bosen idup, lu?!!!" elektron mulai emosi.
"Wo wo wo santai men! Kagak ada tempat lagi ini!" jawab foton sok ghetto.
"Holy shit! Lo musti gue absorbsi sekarang atau kita bakal meledak," kata elektron sedikit ngancem.
"Ambil nih! Ambil!!!!!" teriak foton semi-nggak iklas.
Akirnya bener, abis ngambil energi dari foton tadi, elektron langsung lompat ke kulit atom lain yang punya tingkatan energi lebih tinggi. Kenapa? Karna takdirnya gitu, mau gimana lagi...? Tapi nggak lama kemudian dia balik lagi ke habitat asalnya. Mungkin karna emang udah waktunya mudik. Nah pas itu juga, dia pancarin lagi si foton. Dan... jadi deh.
Apanya yang jadi?
Hubungannya ama white kopi?
Nggak ada.
Tuesday, April 30, 2013
Cara Ngebantu Ibu Bikin Sosis
Step 1: Duduk manis, diem sambil nunggu sampe kulit sosisnya mateng, kalo udah mateng tunggu lagi sampe dingin dulu.
Step 2: Diem lagi, boleh sambil nyanyi dalam hati biar nggak bosen nungguin isi sosisnya mateng (tadi yang mateng baru kulitnya, isinya belom...)
Step 3: Nah kalo udah mateng semua baru deh kita cuci tangan trus dengan bacaan basmalah kita taroh isi sosisnya diatas kulitnya tadi (dikit aja ya jangan banyak-banyak, daging sapi kan mahaaaal, ya kecuali kalo sapinya glonggongan mungkin lebih mahal lagi, solanya musti bayar air yang buat glonggongin si sapi malang itu juga, belum lagi kalo air nya dari PDAM)
Step 4: Lipet sebagian/setengah dari kulitnya (sebenernya seperdelapan juga boleh, yang penting isinya udah ketutup) keatas
Step 5: Lipet samping kulit, trus lipet lagi keatas kayak step 4 tadi sampe kulitnya abis buat nutup (ini bikin sosis apa origami sih.)
Step 6: Siapin alat-alat yang diperluin buat ngukus (kalo gak ada, yaudah gausah repot-repot bikin sosis. Buang semua adonan yang udah jadi.)
Step 7: Udah sih. Bukannya udah dibuang, ya, adonannya tadi? Berarti gak jadi bikin, kan? Yaudah.
Subscribe to:
Posts (Atom)