Friday, April 3, 2015

Terbalik

Tiga puluh Agustus, dua ribu lima.


Kenapa? Kenapa Anda tidak sekalian saja menyuruh kami menghafal GBHN, pak?

Itu yang hampir ku katakan ke pak Budi ketika aku mulai bosan dengan rutinitas bernama KBM. Kegiatan Belajar Menghafal. Ku putuskan, mulai hari ini aku kehilangan minat. Percaya atau tidak, ini lebih mengerikan dari main catur dan lawanmu adalah seorang sumo. Yep, analogi yang bagus, walaupun aku tidak tau apa korelasinya. Mungkin, ini yang orang sering bilang tentang ruang hampa. Aku tidak merasakan apapun.

Tidak ada harapan lagi. Maksudku, bagaimana mungkin aku akan berharap hari ini cepat berakhir? Itu akan terdengar seolah-olah aku tidak sabar menunggu besok. Ya, besok. Besok, semua omong kosong sekolah ini akan terulang dan aku harus melaluinya lagi. Tidak bisa kupercaya sekolah termasuk aktivitas kehidupan . Selama 6 hari berturut-turut dalam seminggu, yang kulakukan disana cuma duduk, mendengarkan, pura-pura peduli tentang massa jenis atom, menanyakan bagaimana aku bisa menemukan nilai (x), dan… entahlah. Aku tidak yakin aku bisa memaafkan diriku untuk itu. 

(Bel berbunyi)

Sungguh sebuah keajaiban, akhirnya!

Tapi ternyata itu tidak membuat banyak perbedaan di kelas. Keributan kelas tidak mampu membayar kebosananku. Aku masih sibuk menulis diatas kertas. Sesuatu yang jelas bukan pelajaran. Aku menciptakan banyak karakter bayangan dan membuat seribu satu kenyataan rekaan di dalamnya. Tidak seorangpun mengetahui hobi gila ini. Membiarkan mereka tau tentang dunia lainku? Tidak, terima kasih. Aku tidak ingin berakhir di rumah sakit jiwa.

Tiba-tiba aku merasa asing.

Senyap. 

Teman-temanku menghilang. 

Aku pasti sedang bermimpi..

Ya, untuk saat ini, itu adalah penjelasan yang paling masuk akal. 

Panik, aku berlari ke kantin untuk memastikan mereka sedang istirahat. Kosong. Tidak ada siapapun di kantin. Bahkan keadaan kantin terlihat sangat tua dan tidak terawat. Ku jelajahi semua ruangan...

Ini tidak benar. 

Tidak ada seorangpun di sekolah ini.


---

Untuk Manusia

Aku semakin mendekati pensiun dari perjalanan waktu, tapi ketakjubanku terhadap dunia sepertinya tidak akan pernah habis dan terjawab. Orang bisa punya moral tanpa agama. Membuat peraturan hidup sendiri yang menguntungkan mereka. Mereka hanya perlu menggunakan akal untuk bebas.

Jika hidup itu memilih untuk bebas, maka agama adalah salah satu dari sekian banyak pilihan. Aku tidak pernah menyesal dengan apa yang telah aku pilih. Bagiku, ini sudah cukup berarti kebebasan, terlepas dari pendapat kebanyakan orang tentang kebebasan. Aku telah menentukan pilihan, dan aku bahagia dengan pilihan itu. Aku harap mereka juga bahagia dengan pilihan mereka.

Percayalah dengan apa yang kamu percayai, dan hiduplah dengan kepercayaan itu. Abaikan perbedaan diantaranya. Dan belajarlah melihat persamaan yang sering kali terabaikan.


Seberapapun bedanya kita, aku akan selalu menyayangi kalian sebagai sesama manusia.