Ini adalah jum'at terberat ke-entahlah yang pernah aku alami. Aku baru menyadari adanya konspirasi terselubung antara berat badanku dan gravitasi bumi untuk membuat pergerakanku semakin lambat. Tapi bukan ini yang mengusik minggu terakhirku di bulan Desember. Aku diburu sekomplotan pemuda yang cukup nggak misterius, yang mengaku sebagai utusan dari KNPI kabupaten. Teknisnya, aku resmi berstatus buron selama seminggu ini.
Dengan gigihnya, mereka terus neror dengan ngirimin sms spam yang berisi ajakan untuk rapat ini-itu. Apa yang bisa aku lakuin? Aku ngarang cerita. Aku tau suatu saat kebusukanku ini bakal kebongkar. Dan hari itu adalah hari kemarin...
Aku nggak yakin bisa menceritakan kronologis transformasiku dari seorang pengarang cerita menjadi seorang calo tiket nonton tinju, tapi aku bisa ngitung itu terjadi hanya dalam kurun waktu 0.5 x 24 jam. 15 tiket harus aku serahin ke Pak Lurah jum'at ini dan aku bisa selamat dari kutukan ini. Gampang banget, kan? Nggak juga. Kantor tutup karena lagi cuti bersama. Rumah Pak Lurah? Kosong. Kombinasi sempurna untuk membuatku merasa apes. Puas kalian? Puas, Pak?
Karena deadline mepet, desperately, aku jual tiket ini manual layaknya agen MLM yang lagi berusaha menjerat korbannya.
Soriiii.. banget buat pihak-pihak yang udah aku usik ketenangan hidupnya. Aku bersumpah, nggak akan nglakuin ini lagi..
Kecuali kalo kepepet.